Maaf Bapak dipanggil Bos, ada masalah Penting..

Budi anak pak Sanip yang bekerja di perusahaan yang sangat mapan sedang sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya.  Mejanya tampak berantakan, kertas-kertas bertebaran disekelilingnya. Bajunya juga nampak sudah tidak rapi.  Mukanya tampak sangat serius melihat kertas-kertas di depan mejanya.

Tiba-tiba telepon di mejanya berdering. Budi mengangkat telepon, dari seberang terdengar suara : “Maaf pak Budi, Bapak dipanggil Bos sekarang juga, ada hal yang sangat penting. Tolong jangan lupa bawa berkas hasil meeting kemarin”. Ini adalah suara sekretaris Bos.

Budi agak panik, dan secepatnya menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan sambil tanganya juga berusaha merapikan pakaiannya serta merapikan rambutnya. Dia melihat sepintas penampilannya apakah sudah OK atau belum, alu setengah berlari menuju ke ruang Bos.  Budi memang salah satu karyawan yang dedikasi, disiplin dan loyalitasnya sangat tinggi.

Ini adalah salah satu fragment kehidupan kerja yang pasti hampir semua orang mengalaminya, walaupun bentuk dan ceritanya agak berbeda. Dan ini terjadi setiap hari, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun.

Adakah yang salah dalam peristiwa ini?

Pada dasarnya tidak ada yang salah, kecuali kalau dibandingkan dengan cerita berikut ini. Baca lebih lanjut

Pak Sanip naik Mercy..

mercy.jpgTelepon di rumah pak Sanip berdering. Pak Sanip bergegas mengangkat telponnya kemudian mengucap “Assalamualaikum Wr. Wb”.

Ternyata yang menelepon adalah teman pak Sanip dulu waktu masih bersekolah, pak Makmur. Saat ini pak Makmur untuk ukuran orang sekarang di bilang Sukses.

“Assalamualaikum pak Sanip, apa kabarnya”, pak Makmur memulai pembicaraan.

“Alhamdulillah, pak Makmur, bagaimana dengan bapak”, sahut pak Sanip.

Akhirnya terjadi pembicaraan panjang lebar dan kangen-kangenan antara pak Sanip dan pak Makmur.

“Begini pak Sanip, besok bapak tak jemput mau tak ajak makan-makan sekalian rendezvous, gimana pak?”.

“Ya, baik, tapi ajak juga teman yang lain ya?” sahut pak Sanip.

Esok harinya datang sebuah mobil Mercy terbaru masih mulus, berhenti di depan rumah pak Sanip. Pintu mobil terbuka, seorang sopir bergegas ke belakang dan membuka pintu. Baca lebih lanjut

Pelangi Pelangi Alangkah Indahmu ,, Merah Kuning Hijau ,,

Mantunya pak Sanip kelihatan uring-uringan seharian ini. Apa yang dikerjakan jadi banyak salahnya.

pelangi2.jpgPak Sanip yang masih menginap di rumah anaknya sudah memperhatikan keadaan ini dari siang hari.

Akhirnya pak Sanip tidak tahan untuk bertanya, ada apa sebenarnya yang sedang dirasakan oleh anak mantunya ini.

“Pusing Pak, tinggal di komplek Perumahan begini. Ada saja suara-suara nggak enak yang harus di dengar tiap hari”.

“Ada saja yang diomongin orang tentang saya Pak, emang saya ini salah apa?”, mantunya langsung berbicara panjang lebar, seolah ingin melepas beban yang ada di hatinya.

“Tapi ada juga kan yang kompak sama kamu Nak?” tanya pak Sanip.

“Ya ada sih pak, saya paling kompak dengan bu Yuli, bu Marni dan bu Rita” sahut mantunya.

“Ya kalau begitu bagus lah Nak” timpal pak Sanip.

“Bagus bagaimana pak, yang kompak sih ada, Baca lebih lanjut

Wah .. bid’ah itu..

Malam habis hujan besar sore hari menyisakan hawa dingin yang menusuk. Tapi tidak di Pos Ronda kampungya pak Sanip. Hawa dingin sudah tidak terasa karena ada perbincangan (dan perdebatan) yang mulai hangat dan bahkan sekali-sekali agak memanas.

“Menyelenggarakan Muludan (Maulid Nabi) itu Bid’ah, Bid’ah itu mengada-adakan ibadah yang tidak ada, hukumnya dosa Besar”, salah seorang berkata di kerumunan Pos ronda.

“Siapa bilang Muludan Bid’ah, jangan asal bicara dong, wong kita ini memperingati lahirnya Kanjeng Nabi kok dikatakan Bid’ah. Apa landasan kamu mengatakan itu Bid’ah”, celetuk yang lain. Baca lebih lanjut

Esok, matahari akan terbit seperti sediakala..

matahari_terbit.jpgPak Sanip minggu ini menyempatkan pergi dan menginap di rumah anak laki-lakinya nomor 2. Anaknya bekerja pada sebuag perusahaan cukup ternama dengan kedudukan yang lumayan pula. Biasanya anaknya berangkat pagi-pagi sekali dan baru pulang setelah agak larut.

Sudah 2 hari pak Sanip menginap disitu. Seperti biasa, pada hari ketiga setelah agak larut, anaknya baru pulang kerja. Hanya hari ini anaknya kelihatan agak lain, badannya kelihatan kusut dan wajahnya keruh.

Pak Sanip membiarkan anaknya masuk, sampai dia sudah ganti baju, dan duduk dikursi sambil menikmati minum kopi yang sudah dipersiapkan istrinya.

Pak Sanip mendekati anaknya. Baca lebih lanjut

Lho Pak Sanip sekarang berbuat Syirik….

mobilkeris.jpgPagi hari, matahari masih agak enggan menunjukkan dirinya. Hawa masih dingin dan terasa segar.

Pak Sanip sedang duduk-duduk di teras depan rumah sambil mengelus-elus dan membersihkan keris. Rupanya pak Sanip terlalu serius dalam pekerjaannya sehingga dia sampai melompat kaget saat disapa pak Bejo yang kebetulan lewat di depan rumahnya.

“Pagi pak Sanip”, seru pak Bejo dengan suara menggelegar dan berat khas pak Bejo. “Wah, bapak bikin kaget saya saja. Hampir saja saya tergores keris ini. Pagi juga pak Bejo, tumben pagi-pagi sudah mampir kesini”.

“Lho, saya nggak tahu kalau pak Sanip ini juga memelihara Keris. Wah aneh benar, yang namanya pak Sanip orang soleh sak kampung kok nyimpan keris segala. Itu kan syirik pak. mBok ya di dalam saja biar tidak ada yang lihat”, pak Bejo langsung berkomentar dengan kegiatan yang dilakukan pak Sanip.

Pak Sanip tetap asyik mengelus-elus kerisnya seolah-olah tidak mendengar pernyataan dan pertanyaan pak Bejo. Baca lebih lanjut

Dahsyatnya kekuatan Doa…

doa.jpgPak Bejo belakangan ini kelihatan kusut muka dan kusut badan. Pekerjaannya kalau nggak melamun, ya mondar-mandir di sekitar rumahnya atau nongkrong di Pos Ronda.

“Pak Bejo saya perhatikan akhir-akhir ini kok kusut banget seperti pakaian yang nggak pernah disetrika kaya gitu. Ada apakah gerangan yang terjadi?, kata pak Sanip memulai pembicaraan.

“Saya pusing pak Sanip. Rejeki akhir-akhir ini kayaknya seret banget. Udah usaha tapi sepertinya mandeg di tengah jalan” keluh pak Bejo. Baca lebih lanjut