Alhamdulillah aku dapat mobil . . .

Alhamdulillah aku dapat mobil.

Sebuah mobil baru keluaran tahun terakhir terpajang di depan rumah. Semua masih tampak sempurna. Cat mengkilap, Jok masih terbungkus plastik, ban masih berwarna hitam mengkilat.

Alhamdulillah, aku bersyukur sudah punya mobil. Rasa syukur menyeruak di relung hati. Akhirnya apa yang aku inginkan untuk memiliki sebuah mobil baru tercapai juga.

Alhamdulillah… Alhamdulillah … Alhamdulillah , ucapan ini terus terucap baik di hati maupun di bibir.

Semua bergembira dengan adanya kehadiran mobil baru ini. Dilihat, di elus, kemudian mulai sibuk melengkapi aksesori mobil tersebut. Mulai dari parfum mobil yang berbau wangi menyegarkan sampai pernak-pernik yang sekiranya akan lebih mempercantik penampilan mobil tersebut.

Alhamdulillah .. .. Alhamdulillah . .  . . Alhamdulillah , kembali dan kembali ucapan ini terus terucap di hati maupun di bibir.

Tapi ya Allah . . . Ampuni aku ya Allah.

Astaghfirullah ya Allah, ampuni aku ya Allah.

Kenapa ?  – – – Kenapa ? – – – Tiba-tiba menyeruak pertanyaan besar yang langsung menghunjam hati dan menimbulkan rasa penyesalan dan rasa berdosa yang luar biasa.

Kenapa ? – – – Kenapa ? – – –

Kenapa perasaan Syukur yang begitu hebat ini tidak pernah aku rasakan karena nikmat Allah yang sudah jelas-jelas aku nikmati selama ini tanpa masalah.

Kenapa aku tidak pernah mengucapkan Alhamdulillah … Alhamdulillah . . . berulang-ulang di hati maupun di bibir, karena sampai detik ini aku diberi Kaki yang sempurna?

Kaki sempurna yand dapat membawa aku untuk bisa kemana-mana untuk mencari rizkimu.

Kaki yang dengannya aku mampu untuk berdiri tegak di bumi dan mampu untuk menghidupi keluargaku.

Kaki yang tidak pernah bermasalah dan tidak pernah protes. Kaki yang dengannya aku bisa menginjak gas dan rem mobil baruku.

dan . . . Masih jutaan nikmat yang telah Allah berikan padaku, tapi tidak merasa?? Tidak pernah hati dengan antusias mengucap Alhamdulillah. . Alhamdulillah.

Ya Allah betapa kerdilnya aku. Betapa kerdilnya manusia.

Begitu terlalu banyaknya nikmat yang engkau berikan terus-menerus padaku, sampai karena terlalu banyaknya, hatiku menjadi Bebal, menjadi bodoh, menjadi pandir, sehingga lupa untuk selalu mensyukuri segala nikmat ini dengan ucapan antusias baik di hati maupun di bibir .. Alhamdulillah.

Ya Allah . . .ampuni kebebalanku ini ya Allah.

6 pemikiran pada “Alhamdulillah aku dapat mobil . . .

  1. Senang punya mobil pak ya..sampe ditulis diblog? senang karena urgensinya atau senang karena bakal bisa dilihat orang bahwa saya sekarang punya mobil sebagai pertanda status sosial dan kesuksesan…

    No heart feeling

    Salam
    (orang iri yang sering dipameri orang yang punya mobil)

  2. Dihiasi manusia dengan kesenangan akan kuda-kuda pilihan….

    Afwan…no heart feeling..

    Luapan kegembiraan di paragraf awal sangat mungkin adalah dorongan alam bawah sadar anda yang selama ini sangat mendambakannya…

    Alam bawah sadar itu barangkali mempengaruhi apa yang terbersit tanpa sadar di fikiran anda dulu ketika melihat teman lama yang udah punya mobil…..mempengaruhi airmuka spontan anda sekarang ketika melihat teman lain yang masih ngonthel….ada semacam rasa bangga dan percaya diri yang lebih tinggi di depan anak dan isteri bahwa saya adalah “seseorang” yang bisa….Saya sekarang bagian dari “kasta” pemilik mobil yang berhak menikmati setiap bentuk respek dari “kasta” di bawah saya..

    Afwan…bukan fitnah ataupun prejudice…just digging the possible truth inside ourselves…even though it’s ugly

  3. wah, luar biasa sekali tulisannya…. memang manusia seringkali lupa akan anugerah yang telah diterimanya, terkesan biasa saja padahal itu luarbiasa sekali. terima kasih ya atas sharingnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s