Qodo Qodar dan Ikhtiar (kebebasan berkehendak manusia) ?

Qodo dan Qodar adalah ketentuan dari Allah yang maha Agung.

Sampai sehelai Daun Kering yang gugur dan terbang ke bumi semua adalah sudah ketentuan Allah

Ikhtiar adalah kebebasan berkehendak manusia

Manusia memiliki kebebasan berkehendak sesuai dengan keinginannya

Manusia boleh bermalas-malasan atau berikhtiar sekuat-kuatnya untuk memanfaatkan kebebasan berkehendaknya.

Bertentangankah?

Banyak yang menyatakan bahwa ini saling bertentangan,

dan sesungguhnya Qodo Qodar dan Ikhtiar tidak bertentangan

Semua ketetapan Allah tetap berlaku

Semua ikhtiar manusia tetap berjalan.

Semua Qodo Qodar dan Ikhtiar tidak bertentangan

Sejak manusia dilahirkan, dia tidak dapat memilih Kapan dia lahir, Siapa Bapak Ibunya, apakah berkulit hitam, coklat atau putih. Apakah Cantik atau tidak. Apakah ganteng atau tidak. Apakah tinggi atau pendek. Apakah dia memiliki bakat seni atau tidak. Apakah dia otaknya pandai atau tidak.

Hanya satu hal yang dibuat sama untuk manusia pada waktu dilahirkan, yaitu Hati yang bersih, hati yang taqwa pada Allah.

Manusia tidak bisa memilih. Demikian pula dengan waktu kematiannya. Kapan dan dimana semua sudah ditentukan.

Diantara rentang Lahir dan Kematian adalah rentang kehidupan dan nasib manusia. Pun demikian di antara rentang Lahir dan Mati ini manusia tidak dapat memilih nasibnya, seperti halnya ketidakmampuannya memilih kelahiran dan kematiannya

Lantas, bagaimana dengan ikhtiar (kebebasan berkehendak manusia) dalam rentang kehidupannya ? Kalau memang sudah tidak bisa memilih nasibnya, untuk apa berikhtiar? Bukankah ini bertentangan?

TIDAK.

Ikhtiar manusia adalah kebebasannya dalam batas-batas yang telah ditentukan Allah.

Nasib dalam rentang kehidupan manusia ibarat Sepiring Makanan yang terletak di meja. Setiap manusia telah ditentukan piringnya masing-masing. Ada yang besar ada pula yang kecil. Ini adalah Ketentuan Allah yang pasti.

Ikhtiar Manusia ibarat menggerakkan tangan mengambil piring tersebut, mengambil makanannya dan memakannya.

Orang yang bermalas-malas, tidak akan pernah bisa mengambil piringnya dan memakannya. Dia menjadi sengsara bukan karena ketentuan Allah, tapi karena dia memilih untuk hanya “memandang” saja piringnya (takdirnya)

Orang yang bersungguh-sungguh berikhtiar akan mendapatkan penuh piring dan isinya tanpa terkurangi sedikitpun

Orang yang setengah-setengah berikhtiar dia akan mendapatkan piringnya, tetapi banyak makanannya akan tercecer di lantai.

Orang yang taat dan selalu melaksanakan perintah dan laranganNya, maka Allah akan membimbing tangannya agar tepat dan pas dalam mengambil hak piringnya, tanpa takut tercecer.

Orang yang tidak ridha dengan ketentuan takdirnya akan melakukan pelanggaran Perintah Allah dengan jalan mencuri, korupsi, mengambil hak orang lain, menzalimi orang lain dll. Mereka kaya tapi bukan takdirnya, dan balasannya adalah neraka jahanam. Ketentuan Allah pasti berlaku. Allah Maha Menepati Janji.

Pun demikian ketentuan kapan matinya. Kapan Mati adalah ketentuan yang tetap. Bagaimana Mati, silakan memilih sendiri, apakah mengumbar hawa nafsu dalam rentang hidupnya atau selalu mendekatkan diri pada Allah.

Allah akan membalasnya sesuai dengan apa yang kita lakukan.

Allah Maha Menepati Janji

Alhamdulillah aku dapat mobil . . .

Alhamdulillah aku dapat mobil.

Sebuah mobil baru keluaran tahun terakhir terpajang di depan rumah. Semua masih tampak sempurna. Cat mengkilap, Jok masih terbungkus plastik, ban masih berwarna hitam mengkilat.

Alhamdulillah, aku bersyukur sudah punya mobil. Rasa syukur menyeruak di relung hati. Akhirnya apa yang aku inginkan untuk memiliki sebuah mobil baru tercapai juga.

Alhamdulillah… Alhamdulillah … Alhamdulillah , ucapan ini terus terucap baik di hati maupun di bibir.

Semua bergembira dengan adanya kehadiran mobil baru ini. Dilihat, di elus, kemudian mulai sibuk melengkapi aksesori mobil tersebut. Mulai dari parfum mobil yang berbau wangi menyegarkan sampai pernak-pernik yang sekiranya akan lebih mempercantik penampilan mobil tersebut.

Alhamdulillah .. .. Alhamdulillah . .  . . Alhamdulillah , kembali dan kembali ucapan ini terus terucap di hati maupun di bibir.

Tapi ya Allah . . . Ampuni aku ya Allah.

Astaghfirullah ya Allah, ampuni aku ya Allah.

Kenapa ?  – – – Kenapa ? – – – Tiba-tiba menyeruak pertanyaan besar yang langsung menghunjam hati dan menimbulkan rasa penyesalan dan rasa berdosa yang luar biasa.

Kenapa ? – – – Kenapa ? – – –

Kenapa perasaan Syukur yang begitu hebat ini tidak pernah aku rasakan karena nikmat Allah yang sudah jelas-jelas aku nikmati selama ini tanpa masalah.

Kenapa aku tidak pernah mengucapkan Alhamdulillah … Alhamdulillah . . . berulang-ulang di hati maupun di bibir, karena sampai detik ini aku diberi Kaki yang sempurna?

Kaki sempurna yand dapat membawa aku untuk bisa kemana-mana untuk mencari rizkimu.

Kaki yang dengannya aku mampu untuk berdiri tegak di bumi dan mampu untuk menghidupi keluargaku.

Kaki yang tidak pernah bermasalah dan tidak pernah protes. Kaki yang dengannya aku bisa menginjak gas dan rem mobil baruku.

dan . . . Masih jutaan nikmat yang telah Allah berikan padaku, tapi tidak merasa?? Tidak pernah hati dengan antusias mengucap Alhamdulillah. . Alhamdulillah.

Ya Allah betapa kerdilnya aku. Betapa kerdilnya manusia.

Begitu terlalu banyaknya nikmat yang engkau berikan terus-menerus padaku, sampai karena terlalu banyaknya, hatiku menjadi Bebal, menjadi bodoh, menjadi pandir, sehingga lupa untuk selalu mensyukuri segala nikmat ini dengan ucapan antusias baik di hati maupun di bibir .. Alhamdulillah.

Ya Allah . . .ampuni kebebalanku ini ya Allah.