Pohon Rejeki . . .

pohon rejeki“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).

“Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi).

Pada saat Ruh ditiupkan,

Manusia bersumpah untuk berbakti pada Allah,

kemudian salah satunya dituliskan garis Rejekinya, apakah banyak atau sedikit…

Banyak atau sedikit sudah diukur agar cukup untuk setiap manusia,

Garis Rejeki manusia ibarat Pohon Buah. . .

Seseorang mendapatkan Pohon Buahnya masing-masing

Ada yang mendapatkan pohonnya Besar dan Rindang penuh dengan buah

Ada yang mendapatkan pohonnya sedang dan cukup Buahnya

Ada yang mendapatkan pohonnya kecil dan sedikit buahnya

Semua sudah ditentukan dan digariskan

Pohon kecil, pohon sedang, pohon besar . . . semua sudah diukur dan pasti akan mencukupi hajat masing-masing manusia.

Manusia sendirilah yang menyengsarakan dirinya sendiri.

Pohon rejekinya tetap harus dipanjat dengan usaha dan pemikiran, agar manusia dapat memetik buah dari pohonnya

Hanya duduk dan termangu di bawah pohonnya, dia hanya akan mendapatkan buah-buah yang hanya kadangkala jatuh

Dan kadangkala tidak pernah jatuh

Pohon rejekinya, selain perlu dipanjat dengan sungguh-sungguh, juga perlu dirawat dan dipupuk.

Merawatnya dengan Iman dan Taqwa

Memupuknya dengan Infaq shodaqoh

Memanjatnya dengan pemikiran, usaha dan doa

Tanpa merawat, dia akan tetap mendapatkan buahnya, tapi buah yang tidak sehat

Dirawat tanpa memupuk, dia tetap akan mendapatkan rejekinya, dengan buah yang baik tapi jumlahnya terbatas

Dengan merawat dan memupuk, dia akan mendapatkan buah yang baik dan Allah akan menumbuhkan dahan baru dan buah baru yang lezat.

Doa, akan membimbing pemanjat ke dahan-dahan yang kuat dan berbuah dan menghindarkannya dari menginjak dahan-dahan yang rapuh

Yang duduk bermalas-malasan, tidak pernah belajar dengan sungguh-sungguh, tidak menggunakan segala daya upaya pemikiran dan tenaganya, maka dia tidak akan mendapatkan buahnya secara maksimal.

Dia telah menyengsarakan dirinya sendiri…..

Dan Gajahpun Tersenyum . . . .

gajah.gifSebuah Kisah klasik, yang hampir semua orang pernah mendengarnya.

Ada seekor Gajah di dalam ruang yang Gelap Pekat, kemudian ada beberapa orang masuk ke dalam ruangan itu.

Dikatakan kepada mereka : “Engkau akan menjumpai seekor Binatang Besar di dalam ruangan ini, coba engkau kenali dengan baik-baik Binatang ini”.

Kemudian orang-orang ini dengan tertatih-tatih mencoba mendekati Binatang ini, dan selang beberapa waktu akhirnya mereka mampu mencapai dan menggapai si Gajah. Kemudian di dalam kegelapan itu masing-masing orang berusaha melakukan observasi. Tentu saja observasi ini sangat dipengaruhi dengan keadaan masing-masing orang, baik pengalamannya, ketinggian ilmunya, Kebijaksanaannya dan lain-lain.

Setelah selesai melakukan observasi, akhirnya orang-orang tersebut keluar dari ruangan tersebut, dan berkumpul di sebuah ruangan diskusi. Mereka masing-masing tentu saja mempunyai gambaran sendiri-sendiri mengenai binatang yang baru saja mereka observasi.

Dari hasil pembicaraan Awal ternyata hasil Observasi masing-masing hasilnya berbeda, yaitu:

  • Binatang ini seperti Kipas : karena saat itu kebetulan dia memegang Kuping gajah yang Lebar
  • Binatang ini seperti Tali Jemuran : kebetulan orang ini memegang Ekor Gajah
  • Binatang ini seperti Ular : kebetulan orang ini memegang Belalai si Gajah
  • Binatang ini seperti Dinding : kebetulan orang ini memegang Perut Gajah yang Besar
  • Binatang ini seperti Pohon yang kokoh : kebetulan orang ini memegang Kaki Gajah yang besar.

Orang Pertama : (yang kebetulan memegan kuping Gajah) mengatakan : “Binatang ini bentuknya Pipih, Lebar seperti Kipas Besar yang biasa kita pakai saat kita kepanasan, itu menurut saya berdasarkan hasil Observasi saya. Dan saya meyakini bahwa Binatang ini benar-benar seperti Kipas, lha kalau saudara-saudara yang lain menganggap bahwa bentuknya bukan seperti Kipas ya silakan saja

Orang Kedua : (yang kebetulan memegang Ekor Gajah) mengatakan : “Sudah pasti, Gajah ini seperti Tali Jemuran, Anda-anda yang menyimpulkan bahwa Gajah tidak seperti Tali Jemuran jelas-jelas telah melakukan kesalahan yang Fatal dan Sesat. Untuk itu saya ulangi sekali lagi, Gajah adalah binantang yang bentuknya seperti Tali Jemuran. Bahwa gajah itu seperti Kipas Angin, Tembok, Ular, Dinding atau Pohon adalah sebuah kesimpulan yang bodoh dan tak berdasar. Percayalah dengan kesimpulan saya, maka anda semua akan selamat.

Baca lebih lanjut