Pak Sanip naik Mercy..

mercy.jpgTelepon di rumah pak Sanip berdering. Pak Sanip bergegas mengangkat telponnya kemudian mengucap “Assalamualaikum Wr. Wb”.

Ternyata yang menelepon adalah teman pak Sanip dulu waktu masih bersekolah, pak Makmur. Saat ini pak Makmur untuk ukuran orang sekarang di bilang Sukses.

“Assalamualaikum pak Sanip, apa kabarnya”, pak Makmur memulai pembicaraan.

“Alhamdulillah, pak Makmur, bagaimana dengan bapak”, sahut pak Sanip.

Akhirnya terjadi pembicaraan panjang lebar dan kangen-kangenan antara pak Sanip dan pak Makmur.

“Begini pak Sanip, besok bapak tak jemput mau tak ajak makan-makan sekalian rendezvous, gimana pak?”.

“Ya, baik, tapi ajak juga teman yang lain ya?” sahut pak Sanip.

Esok harinya datang sebuah mobil Mercy terbaru masih mulus, berhenti di depan rumah pak Sanip. Pintu mobil terbuka, seorang sopir bergegas ke belakang dan membuka pintu.

Pak Makmur keluar dan langsung masuk ke rumah pak Sanip. “Ass. Wr. Wb” teriak pak Makmur. Pak Sanip keluar dan menyambut dengan tersenyum kedatangan pak Makmur. “Wa alaikum salam, wah gagah bener nih pak Makmur”.

Pak Makmur: “Pak, ayo kita langsung berangkat, teman-teman sudah menunggu”.

Sopir sudah membukakan pintu, pak Sanip dan pak Makmur masuk ke dalam mobil. Aroma harum lembut menyergap hidung pak Sanip. Interior yang mewah menambah nyaman penumpangnya untuk duduk berlama-lama dalam mobil.

Mobil akhirnya berjalan pelan-pelan menyibak jalanan menuju rumah makan yang dituju.

“Gimana mobilnya Pak?” tanya pak Makmur.

“Wah.. wahh.. benar-benar luar biasa mobil ini, harum, mewah, empuk enak dan tidak berasa di perjalanan. Semuanya serba nyaman” Begitu komentar pak Sanip.

“Serasa punya seorang teman yang munafik”, lanjut pak Sanip.

Pak Makmur terlonjak kaget dengan perkataan pak Sanip terakhir ini. “Jadi pak Sanip menganggap saya ini teman Bapak yang munafik begitu Pak”, kata pak Makmur agak keras.

“Tenang, tenang .. pak Makmur. Bukan bapak yang saya anggap munafik. Kalau bapak ini dari dulu sampai sekarang ya saya kenal sebagai orang yang baik-baik, teman sejati gitu loh”, ujar pak Sanip

“Jadi…. so what gitu loh”, pak Makmur tidak mau kalah memakai kata-kata anak muda.

“Saya hanya membandingkan naik Mercy dan naik Metromini”.

“Naik Mercy itu semua nampak serba nyaman, serba enak. Kita begitu yakin dengan remnya, lampunya, performanya, dan harumnya sehingga kita lama-lama terlena dan mengantuk. Dan suatu saat tiba-tiba kita sudah berada di bibir jurang”

“Kalau naik Metromini itu setiap detik itu serba kelihatan tidak enak, badan dihentak-hentak terus, tangan harus pegangan di kursi, keringatan, kita mau-tak mau harus selalu waspada, rem belum tentu pakem. Saat-saat tertentu kadang terasa nyaman tapi saat lain tidak”.

“Nah, naik Mercy itu ibarat kita punya teman yang munafik, biasanya kita merasa semua serba enak dan serba nyaman padahal kita tidak tahu ada apa di belakang itu, sedang naik Metromini itu ibarat kita punya sahabat, kadang akrab dan nyaman, kadang kita cekcok”, pak Sanip menjelaskan maksudnya.

“Oh.. begitu maksud pak Sanip, kirain apa” kata pak Makmur.

“Tapi kalau saya punya Mercy begini nggak apa kan pak Sanip?, lanjut pak Makmur.

“Ya enggak lah, siapa yang bilang punya Mercy itu nggak boleh. Dan lagi ini kan konsekuensi, semakin kita sukses semakin kita bisa punya Mercy banyak. Yang penting bapak harus selalu Waspada dan selalu ingat nyamannya naik Metromini. Satu lagi jangan lupa naik mobil itu hanya sarana saja”

Satu pemikiran pada “Pak Sanip naik Mercy..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s