Wah .. bid’ah itu..

Malam habis hujan besar sore hari menyisakan hawa dingin yang menusuk. Tapi tidak di Pos Ronda kampungya pak Sanip. Hawa dingin sudah tidak terasa karena ada perbincangan (dan perdebatan) yang mulai hangat dan bahkan sekali-sekali agak memanas.

“Menyelenggarakan Muludan (Maulid Nabi) itu Bid’ah, Bid’ah itu mengada-adakan ibadah yang tidak ada, hukumnya dosa Besar”, salah seorang berkata di kerumunan Pos ronda.

“Siapa bilang Muludan Bid’ah, jangan asal bicara dong, wong kita ini memperingati lahirnya Kanjeng Nabi kok dikatakan Bid’ah. Apa landasan kamu mengatakan itu Bid’ah”, celetuk yang lain.

“Ini ni landasanku (sambil orang tersebut menyebutkan dalil-dalil dan ulama-ulama yang menyebutkan bahwa menyelenggarakan Maulid itu Bid’ah), kata orang pertama tidak mau kalah.

“Ini aku juga punya pegangannya (sambil menyebut dalil-dalil dan ucapan ulama-ulama). Ya kan Muludan itu boleh-boleh saja”, lebih tidak mau kalah menjawabnya.

“Pokoknya Bid’ah…”,  “Pokoknya tidak…”, suasana semakin memanas.

Tiba-tiba pak Sanip datang ke Pos Ronda sambil berkata “Bapak-bapak, yuk kita putar-putar kampung sambil kita ingatkan baik-baik anak-anak kita yang nongkrong sambil maen judi, atau mungkin ada yang nenggak obat, Kasihan mereka-mereka ini, soalnya ada saja yang hanya ikut-ikutan”.

“Wah pak Sanip ini bagaimana to, wong kita baru sibuk mbahas masalah Bid’ah, kok datang-datang membawa bahasan lain”.

“Memang ada apa dengan Bid’ah”, tanya pak Sanip.

“Ini lho pak, kami ini sebagian bilang kalau Muludan itu Bid’ah, sedang sebagian yang lain bilang Muludan itu tidak Bid’ah. Lha kalau menurut pak Sanip gimana?”, cetetuk salah seorang penduduk.

“Oh .. itu, maaf ya saya ini orang yang dangkal ilmunya tentang agama dan dalil-dalil. Tapi saya ingin coba jelaskan” kata pak Sanip sambil tetap berdiri di luar Pos Ronda.

“Kita ambil sederhana saja, yang bicara Muludan itu Bid’ah anggap saja 50%, sedang yang bicara Muludan itu tidak Bid’ah juga 50%. Jadi ya sudah, kita nggak usah bicarakan, apalagi sampai ribut-ribut, wong kalau kita bicarakan ilmu kita nggak nyampai. Yang pingin Muludan ya monggo, yang nggak mau Muludan ya monggo”, kata pak Sanip.

“Yang penting, yang satu jangan menganggap dia yang paling benar, sedang yang lain salah. Kalau sudah begini apa nggak syirik namanya?. Aku kasih tahu ya, dosa atau enggak, neraka atau surga itu hak penuh Allah. Malaikat di langit ke tujuhpun tidak tahu dan tidak mampu untuk urusan ini”.

“Hal lain, sudahlah kita nggak usah ngomongin Bid’ah atau enggak, itu bukan porsi kita. Kalian ini sudah jelas gusti Allahnya satu, cara sholatnya sama, puasanya sama, kok malah ribut-ribut mengotori hati. Ini yang jelas-jelas di depan mata kita malah kalian cuekin. Lihat disekeliling kita, maksiat makin meraja lela, hati kalian adem-adem saja. Piye to iki”

“Ayo kita jalan, lihat-lihat lingkungan kita, kan lebih bermanfaat” , kata Pak sanip.

Semua diam, tiba-tiba ada yang menyeletuk:”Ya pak maaf sudah ngingetin kami, oke kami mau ikutin saran pak Sanip, cuma saya mau tanya 1 pertanyaan saja ke pak Sanip, boleh kan? kata penduduk tersebut.

“Ya silakan”, kata pak Sanip.

“Setelah bapak bicara-bicara tadi, terus pak Sanip sendiri gimana?, bapak setuju Muludan atau enggak?”.

Pak Sanip tersenyum sambil menjawab: ” Ya kalau saya pribadi, saya sih tiap tahun ikut Muludan. Ini kan mengingat, memperingati satu-satunya orang paling mulia, dan lewat beliau kita mengetahui ajaran-ajaran Allah yang benar. Mosok nggak boleh. Di bilang mengkultuskan beliau juga enggak, tapi dengan jasa-jasa beliau yang tidak terhitung mosok saya nggak boleh menghormati beliau dengan super-super hormat, apa salahnya?. Tuhanku dan sesembahanku tetap satu yaitu Allah, dan saya harus menghomati dan mencintai kekasih Allah yaitu kanjeng nabi Muhammad”.

“Sedang acaranya seperti apa, itu kan hanya sarana, semua tergantung hati kita berniat seperti apa. Jangan terburu memvonis sesuatu. Misalnya saya datang sambil menghunus golok, terus jangan langsung kalian bilang saya mau membunuh orang, bisa saja saya saat itu baru mau memotong dahan pohon di dekat kamu”.

“Terus satu lagi, ingat kita itu siapa, cuman orang kampung, ilmunya dangkal. Apalah kita jika dibanding dengan beliau”

“Wis, sudah, tidak usah ngrembug itu lagi, ayo  kita jalan puter-puter kampung. Masih banyak masalah yang harus kita selesaikan” Teriak pak Sanip.

2 pemikiran pada “Wah .. bid’ah itu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s