Kalau kamu percaya Padaku.. aku juga akan percaya padamu

Malam itu di Pos ronda, pak Sanip dan tetangga-tetangganya sedang sibuk membahas sesuatu yang tampaknya penting. Yang dibahas mereka rupanya masalah sumbangan yang diminta di pinggir-pinggir jalan untuk pembangunan masjid, atau untuk renovasi masjid.

Diskusi terlihat ramai, yang satu menyahut yang lain.

Terdapat dua kubu yang berseberangan di dalam diskusi tersebut, kubu pertama menganggap hal itu biasa saja dengan berbagai alasannya, sedang kubu lainnya beranggapan sebaliknya.

Pak Bejo : “Itu tu.. yang di jalan Emplang, sudah 2 bulan ini mereka berjajar di jalan meminta sumbangan untuk renovasi masjid mereka. Padahal kita nggak tahu bener enggak uang itu akan dipakai untuk Renovasi. Iya kalau memang dipakai, lha kalau di salah gunakan bagaimana?.

Yang pro pak Bejo menyahut dengan menambah argumentasi pak Bejo.

Pak Hasan :”Wah jangan gitu pak, jangan Suudzon dong sama saudara kita, tidak baik itu. Dosa lho”.

“Iya pak, jangan Suudzon dong sama mereka. Kita harus percaya dong sama mereka. Kita harus percaya kalau mereka akan menggunakan uang itu secara Amanah”, sahut yang lain.

“Wah nggak bisa dong Pak, saya sih nggak suudzon. Gimana saya bisa percaya mereka? Kalau mereka mau dipercaya, ya mereka harus menunjukkan dong. Bagaimana kek caranya sehingga kita nanti bisa menaruh kepercayaan pada mereka. Dengan jalan ini kan kita bisa Ikhlas menyumbangnya”.

Perdebatan semakin seru, dan sepertinya tidak ada solusi atau jalan tengahnya. Justru argumentasi semakin banyak dan banyak pula argumentasi yang sudah tidak nalar lagi masuk ke pos ronda tersebut.

Pak Sanip yang sedari tadi mendengarkan perdebatan itu akhirnya angkat bicara menengahi.

“Bapak-bapak mohon tenang sebentar, saya mau bicara sedikit ke Bapak-Bapak” sambil pak Sanip mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat agar semua berhenti berbicara.

“Ada beberapa hal yang perlu saya luruskan yaitu:

  • Jangan menuntut orang lain untuk berbuat dan bersikap agar kita dapat mempercayai mereka. Tapi sebaliknya, diri kita sendiri yang harus mulai. Tanamkan ke diri sendiri untuk mempercayai orang, selalu khusnudzon. Mungkin anda bertanya, lha kalau mereka menghianati bagaimana? Jangan kotori hati kita dengan hal-hal seperti itu. Itu urusan dia dengan sang Khalik. Dan seandainyapun begitu, cepat atau lambat dia akan mendapatkan balasannya.
  • Kalau kita ingin berderma, menyumbang, memberi, ya beri saja langsung. Tidak usah berfikir berprasangka yang macam-macam. Wong yang kita berikan juga sebenarnya milik Allah juga. Kalau saya mah mikirnya begini, yang saya sumbangkan tidak seberapa dibanding yang di dapat, tidak akan miskin saya dengan menyumbang segitu. Bapak-bapak ini beli rokok sehari bisa Rp10.000,-, lha nyumbang Rp. 5000,- saja dan tidak tiap hari kok mau-maunya mengotori hati sendiri dengan bermacam prasangka yang kita tidak tahu sebenarnya seperti apa.
  • Urusan sumbangan itu sampai ke sasaran atau tidak, itu 100% bukan urusan kita. Urusan kita sudah selesai, dan Allah sudah mencatat. Sumbangan sampai atau tidak adalah urusan yang menerima dengan sang Khalik. Enak kan kalau kita begitu.

“Begitu ya Bapak-bapak, mari kita omongin yang lebih bermanfaat saja. Enak kan kalau kita ngobrol yang bermanfaat, sudah senang dapat pahala lagi” Kata pak Sanip menutup pembicaraannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s