Malangnya nasibku … Beruntungnya nasibmu….

doa-anak-salihah2.jpgPak Sanip adalah seorang petani yang sangat miskin. Dengan rumah beralas tanah berdinding bambu yang sudah bolong disana sini. Kekayaan yang dipunyai adalah seorang istri yang salehah dan seorang putra laki-laki yang menginjak dewasa, serta seekor kuda kurus.

Pada suatu sore hari terjadi peristiwa yang cukup menyedihkan, kuda pak Sanip satu-satunya tiba-tiba melarikan diri. Tetangga-tetangga pak Sanip berdatangan mengucapkan rasa simpati dan kesedihan atas kejadian tersebut.

“Kami ikut bersedih pak Sanip, bapak sedang tertimpa kemalangan”, para tetangga berkata pada pak Sanip.

” Terima kasih atas kedatangan kalian, kalau masalah kemalangan YA MUNGKIN SAJA” kata pak Sanip sambil tersenyum ramah.

Dua hari kemudian, terjadi kegemparan di rumah pak Sanip. Ternyata kuda yang melarikan diri ke hutan pulang kembali dengan membawa 3 ekor kuda liar.

Para tetangga berdatangan mengucapkan selamat atas keberuntungan pak Sanip.

“Terima kasih ucapan selamatnya, kalau masalah keberuntungan YA MUNGKIN SAJA” ujar pak Sanip yang memang ramah dan murah senyum.

Empat hari kemudian keluarga pak Sanip tertimpa kemalangan. Anak satu-satunya terjatuh dari salah satu kuda liar yang dimilikinya. Kaki kanannya patah sehingga perlu diobati dan dirawat.

Lagi-lagi para tetangga berdatangan mengucapkan simpati atas kemalangan tersebut. Dan lagi-lagi pak Sanip menjawab YA MUNGKIN SAJA.

Satu minggu kemudian, dengan kondisi anak pak Sanip masih di rawat, datanglah rombongan para pejabat pemerintah. Mereka memerintahkan bahwa seluruh pemuda-pemuda diharuskan berkumpul karena terkena kewajiban Wajib Militer. Pada saat melewati rumah pak Sanip mereka membiarkan saja anak pak Sanip yang memang saat itu tidak mungkin ikut Wamil.

Sebuah cerita menarik tentang ‘kemalangan’ dan ‘keberuntungan’.

Cerita ini diperoleh dan disadur dari beberapa sumber

Di mata manusia ‘kemalangan’ adalah terlihat jelek, keberuntungan terlihat ‘baik’. Ini semua tak terlepas dari paham ‘keduniaan’, paham ‘kebendaan’ yang berlangsung lama dan menyusup ke pori-pori setiap manusia sampai-sampai manusia tidak merasa.

Di mata Allah, kemalangan dan keberuntungan sama saja. Yang membedakan adalah sejauh mana manusia tersebut menanggapinya. Apabila manusia diberi ‘kemalangan’ atau ‘keberuntungan’ kemudian derajat ketaqwaannya semakin bertambah, maka dialah salah satu calon kekasih Allah yang akan duduk dalam 1 majlis bersama orang termulia kanjeng nabi Muhammad S.A.W.

Mari kita ingat pada waktu seorang sahabat menanyakan pada Nabi Muhammad SAW. “Ya rasul Allah, bagaimana perbandingan antara dunia dan akhirat”.

Nabi menjawab: “Lihatlah seekor keledai yang seluruh bulunya hitam legam, dan disitu ada satu lembar uban Putih, itulah dunia”.

Mari kita kejar akhirat, maka akan kita dapatkan dua-duanya. Kita mengejar dunia maka akan diteguhkan keinginan orang tersebut dengan hanya mendapatkan dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s