Ayo kita Berpoligami …

poligami.pngSebenarnya tulisan ini sudah lama ada, hanya karena saya baru membuat blog 2 hari terakhir ini, maka baru diposting sekarang. Tapi esensi nggak akan usang, masalah poligami, apalagi saat kyai Kondang AA Gym melaksanakan Poligami.

Pro – Kontra, selalu begitu, apalagi yang terkena termasuk selebritis.

Pernah saya tanya pada sekelompok Ibu-Ibu, bagaimana menyikapi langkah yang diambil si AA.

Spontan semua mengeluarkan uneg-uneg yang intinya kecewa BERAT dengan langkah AA, dan tidak akan mau dengar lagi si AA (istilahnya patah arangπŸ™‚πŸ™‚ ).

Saya yang bertanya pada saat itu dengan gaya bak seorang Kyai yang sudah mumpuni menasehati:

Silakan kecewa berat, itu boleh dan sah-sah saja, namanya juga idolanya tiba-tiba tidak sesuai dengan yang diharapkan, tapi ada 2 hal ( maaf 3 hal) yang perlu diingat:

  • Poligami di dalam agama secara syariat diperbolehkan (bukan dianjurkan), jelas-jelas ada di Al Quran. Artinya Allah swt. lebih tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia. Ini terlepas dari masalah latar belakang orang tersebut melakukan poligami. Yang jelas diminta hanya harus berlaku adil.
  • Jangan berpolemik mana ada manusia yang adil kecuali nabi?. seolah-olah alasan ini menjadi pembenar bahwa tidak boleh berpoligami kecuali Nabi. Seolah-olah alasan ini logis, padahal kalau dikembangkan akan jadi tidak logis.
    Contoh:
    Adil – Nggak Adil : Manusia tidak ada yang bisa adil maka Poligami Tidak Boleh, konsekuensinya, pernyataan berikut juga harus benar:
    Khusuk – Tidak Khusuk
    : Karena manusia tidak akan ada yang bisa benar-benar khusuk, maka
    manusia dilarang sholat kecuali Nabi.
    Ikhlas – Tidak Ikhlas : maka manusia tidak boleh solat, zakat, puasa, dll ibadah, yang boleh hanya anjeng Nabi. dan masih banyak yang lain.
  • Kalau hati kita Berang dengan perilaku seseorang yang secara sah menjalankan syariat, boleh-boleh saja, tapi mari kita tanya ke hati kita, sejauh mana level berangnya hati kita saat Melihat orang menjalankan Syariat, atau saat melihat atau mendengar orang melakukan Maksiat. Kalau level berang kita lebih besar pada saat orang melakukan syariat, mari kita ambil wudhu sama-sama dan bersujud di depan Allah untuk minta ampun bertobat.

Kita ada di hati yang mana? Ini tidak untuk di bahas, karena suara hati yang tahu adalah diri sendiri dan Allah s.w.t.

Saya menulis ini tidak bermaksud menganjurkan penjenengan sedoyo berpoligami, tapi hanya sekedar urun rembug menempatkan sesuatu pada proporsinya.

Kalau saya sendiri bagaimana, wah saya sudah ngaca lama-lama, rasanya saya masih terlalu jauh untuk kesana (maklum isih koyo lebu peceren).

Sedang judulnya kok Provokatif amat, ya biar anda-anda mau membaca ini he he heπŸ™‚

2 pemikiran pada “Ayo kita Berpoligami …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s